Madrasah Siap Hadapi Kurikulum 2013

MADRASAH MENGHADAPI KURIKULUM  2013 : ANTARA HARAPAN DAN TANTANGAN

 

Pendahuluan

Apa yang terbayang bila berhubungan dengan kurikulum 2013? Kurikulum 2013 telah menyerap energi berbagai pihak yang berkepentingan. Lapisan masyarakat ikut memikirkannya. Dalam arti sempit orang tua selalu melibatkan diri dalam bidang kurikulum. Perhatikan bagaimana sibuknya orang tua dalam waktu-waktu tertentu sesuai dengan kalender pendidikan. Pada awal tahun pelajaran/akademik orang tua sibuk menyiapkan segalanya untuk kepentingan anak-anaknya. Menjelang ujian akhir nasional orang tua memacu, memperhatikan, bahkan ikut mengatur jadwal belajar anaknya di rumah. Apa pun yang dibutuhkan anaknya untuk pendidikan, orang tua akan selalu berusaha menyediakannya. Itu semua tidak lepas dari masalah penerapan kurikulum.        

Kurikulum dan pendidikan merupakan dua konsep yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum membahas mengenai pengembangan kurikulum. Sebab, dengan pemahaman yang jelas atas kedua konsep tersebut diharapkan para pengelola pendidikan, terutama pelaksana kurikulum, mampu melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Kurikulum dan Pendidikan bagaikan dua keping uang, antara yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan tak bisa terpisahkan.

Kurikulum mempunyai peran strategis sebagai sarana human resources dan human investment. Artinya, kurikulum selain bertujuan menumbuhkembangkan kehidupan yang lebih baik, juga telah ikut mewarnai dan menjadi landasan moral dan etik dalam proses pemberdayaan jati diri bangsa dalam pelaksanaan pendidikan. Pendidikan merupakan tindakan sadar dengan tujuan memelihara dan mngembangkan fitrah serta potensi (sumber daya) insani menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil).

Secara kodrati, manusia sejak lahir telah mempunyai potensi dasar (fit}rah)[1][1] yang harus ditumbuhkembangkan agar fungsional bagi kehidupannya di kemudian hari. Untuk itu, aktualisasi terhadap potensi tersebut dapat dilakukan usaha-usaha yang disengaja dan secara sadar agar mencapai pertumbuhan dan perkembangan secara optimal.[2][2]

Pendidikan, sebagai usaha dan kegiatan manusia dewasa terhadap manusia yang belum dewasa, bertujuan untuk menggali potensi-potensi tersebut agar menjadi aktual dan dapat dikembangkan.[3][3] Dengan begitu, pendidikan adalah alat untuk memberikan rangsangan agar potensi manusia tersebut berkembang sesuai dengan apa yang diharapkan. Dengan berkembangnya potensi-potensi itulah manusia akan menjadi manusia dalam arti yang sebenaruya. Di sinilah, pendidikan sering diartikan sebagai upaya manusia untuk memanusiakan manusia. Sehingga mampu memenuhi tugasnya sebagai manusia dan menjadi warga negara yang berarti bagi suatu negara dan bangsa.[4][4]

Pendidikan dapat terjadi melalui interaksi manusia dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial. Proses interaksi tersebut akan berlangsung dan dialami manusia selama hidupnya. Interaksi manusia dalam lingkungan sosialnya menempatkan manusia sebagai mahluk sosial. Yakni, makhluk yang saling memerlukan, saling bergantung, dan saling membutuhkan satu sama lain, termasuk ketergantungan dalam hal pendidikan. Di samping itu, manusia sebagai makhluk sosial terikat dengan sistem sosial yang lebih luas.[5][5]

Sekolah, sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, tidak dapat dipisahkan dari sistem kehidupan sosial yang lebih luas. Artinya, sekolah itu harus mampu mendukung terhadap kehidupan masyarakat Indonesia yang lebih baik. Dalam pendidikan sekolah, pelaksanaan pendidikan diatur secara bertahap atau mempunyai tingkatan tertentu. Dalam sistem pendidikan nasional, jenjang pendidikan dibagi menjadi pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Masing-masing tingkatan itu mempunyai tujuan yang dikenal dengan tujuan institusional atau tujuan kelembagaan, yakni tujuan yang harus dicapai oleh setiap jenjang lembaga pendidikan sekolah. Semua tujuan institusi tersebut merupakan penunjang terhadap tercapainya tujuan pendidikan nasional.

Saat ini pemerintah melalui Kemendikbud mengamanatkan kepada seluruh institusional kelembagaan pendidikan untuk mentrapkan pendidikan berbasis karakter,[6][6] Dewasa ini berkembang tuntutan untuk perubahan kurikulum pendidikan yang mengedepankan perlunya membangun karakter bangsa. Hal ini didasarkan pada fakta dan persepsi masyarakat tentang menurunnya kualitas sikap dan moral anak-anak atau generasi muda.

Pada saat ini yang diperlukan adalah kurikulum pendidikan yang berbasis karakter; dalam arti kurikulum itu sendiri memiliki karakter, dan sekaligus diorientasikan bagi pembentukan karakter peserta didik. Perbaikan kurikulum merupakan bagian tak terpisahkan dari kurikulum itu sendiri (inherent), bahwa suatu kurikulum yang berlaku harus secara terus-menerus dilakukan peningkatan dengan mengadopsi kebutuhan yang berkembang dalam masyarakat dan kebutuhan peserta didik,  guna meminimalisir tingkat kriminallitas yang tak jarang lagi hal ini terjadi pada anak bangsa yang tergolong masih remaja. Usaha pemerintah ini terbukti dengan merancang  munculnya “Kurikulum 2013” yang saat ini masih menjadi bahan uji coba public akan kelayakan kurikulum tersebut.

Dengan adanya deskripsi diatas, penulis mencoba untuk menganalisa kurikulum 2013 tersebut dengan pendekatan beberapa teori dan Mazhab-mazhab  filsafat pendidikan seperti; Idealisme, Realisme, Materialisme, Pragmatisme, Eksistensialisme, Progresivisme, Perenialisme, Esensialisme, dan Rekonstruksionalisme.

 

Konsep Kurikulum 2013

Secara etimologis, istilah kurikulum (curriculum) berasal dari bahasa yunani, yaitu curir yang artinya pelari dan curere yang berarti tempat berpacu. Istilah kurikulum berasal dari dunia olahraga, terutama dalam bidang atletik pada zaman romawi kuno yang Yunani. Dalam bahasa prancis, istilah kurikulum berasal dari kata courier  yang berarti berlari (to run). Kurikulum berari suatu jarak yang yang harus ditempuh oleh seorang pelari dari garis start sampai garid finish untuk memperoleh medali atau penghargaan. Jarak yang harus ditempuh tersebut kemudian diubah menjadi program sekolah dan semua orang yang terlibat di dalamnya. Adapun secara terminologis istilah kurikulum dalam pendidikan adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan peserta didik di sekolah untuk memperoleh ijazah.[7][1]

Adapun pengertian kurikulum secara oprasional menurut perspektif yuridis-formal, yaitu menurut UU.No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional bahwa Kurikulum adalah seperangkat rencana dan  pengaturan mengenai tujuan,isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.[8][2] Melihat pengertian oprasional dari sisdiknnas tersebut, dapat dipahami bahwa kurikulum adalah hal yang sangat urgen dalam pendidikan. Suatu pendidikan yang memiliki rencana yang matang, dalam arti mengembangkan kurikulum dengan matang, akan lebih dekat dengan keberhasilan untuk mencapai pada tujuan yang diinginkan jika dibandingkan dengan suatu lembaga pendidikan yang sama sekali tidak memiliki recana, dan terkesan hanya mengikuti arus air dari hulu ke hilir.

 Dalam kurikulum 2006, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan, fungsi dan kegiatan guru adalah sebagai pengembang kurikulum di sekolah, baik dalam dimensi rencana, dimensi kegiaatan, maupun dimensi hasil. Hal ini karena KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP dilakukan oleh setiap satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).[9][3] Lebih lanjut pada pasal selanjutnya adalah bahwa pengembangan kurikulum mengacu pada pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional. Selain itu, kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.[10][4]

  secara umum, KTSP adalah kurikulum yang memberikan kewenangan dan otoritas seluas-luasnya kepada setiap satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulumnya dengan memperhatikan dan berdasarkan SK dan KD yang dirumuskan oleh BSNP dan sekaligus memperhatikan kondisi karakteristik dan potensi daerah dan peserta didik. KTSP, menurut kaca mata penulis sangatlah baik sekali jika benar-benar dikembangkan dengan prosedur yang  benar. Hal ini karena KTSP memberikan otoritas yang luas kepada setiap satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum sesuai kebutuhan. Sekolah-sekolah dikota, misalkan dapat mengembangkan kurikulumnya dengan kebutuhan yang ada, seperti penguatan penuasaan teknologi kepada peserta didik, sedangkan sekolah yang berada di daerah yang memiliki potensi alam yang melimpah dapat mengembangkan kurikulumnya dengan memberikan mata pelajaran yang dapat menunjang kea rah pengolahan SDA yang dimiliki.

Selain hal positif dalam KTSP, terdapat juga poin negatifnya, yaitu sekolah-sekolah yang tidak bisa memahami dan mengembangkan kurikulum, hanya akan copy-paste kepada kurikulum yang diwarkan pemerintah. Hal ini jauh sekali dari cita-cita KTSP. Akan tetapi, terlepas dari poin positif dan negative KTSP, kurikulum ini haruslah selalu dievaluasi untuk meminimalisir problem-problem yang tercover dalam implementasi KTSP selama sekitas 6 tahun ini.

Evaluasi KTSP ternyata bukanlah opsi yang dipilih oleh Menteri Kemendikbud, Muhammad Nuh dalam upaya melakukan perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia. Muhammad Nuh, selaku menteri Pendidikan di negri ini memutuskan untuk merumuskan kurikulum baru yang rencananya akan mulai diterapkan pada semua jenjang pendidikan dari SD s/d SMA pada tahun ajan 2013/2014, tepatnya pada sekitar bulan Juli mendatang.

Respon terhadap kurikulum 2013 ini sangatlah variatif, mulai dari yang mendukung, tidak memberikan komentar sama sekali, sampai pada kalangan yang menolak dengan keras terhadap kurikulum ini. Berbagai macam alasan dijadikan argumentasi ide masing-masing kalangan baik yang mendukung ataupun menolak. Di sisi lain, pihak Kemendikbut juga melakukan uji public dan berbagai macam persiapan yang dilakukan untuk mensukseskan rencana kurikulum tersebut. Implikasinya adalah anggaran yang sangat besar harus dipersiapkan. Sumber dari Metro tv menyebutkan bahwa anggran yang dibutuhkan adalah sekitar Rp. 680 Miliyar. Dana yang sangat besar sekali. Dana yang besar tersebut semakin menyulut api-api prasangka buruk kalangan yang tidak setuju dengan adanya kurikulum 2013 ini. Namun, terlepas dari berbagai macam kontrofersi terhadap kurikulum ini, Penulis berusaha untuk menganalisa Kurikulum tersebut dari sisi filsafat pendidikannya. Semoga Allah memberikan hidayah dan inayahnya, sehingga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.  

Konsep kurikulum 2013 berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya. Yang perlu mendapatkan penjelasan dalam teori kurikulum adalah konsep kurikulum. Berbicara konsep kurikulum  baru 2013 sebenarnya dapat dianggap tidak membawa sesuatu yang baru. Konsep kurikulum baru ini dinilai sudah pernah muncul dalam kurikulum yang dulu pernah digunakan.

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Golkar, Ferdiansyah, mengatakan bahwa konsep proses pembelajaran yang mendorong agar siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar ini sebenarnya sudah diterapkan pada puluhan tahun silam dengan nama Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).

.Namun tinjauan penulis terkait konsepsi kurikulum, stidaknya Ada tiga konsep  tentang kurikulum 2013, kurikulum sebagai substansi, sebagai sistem, dan sebagai bidang studi.[11][7]

Konsep pertama, kurikulum sebagai suatu substansi. Kurikulum dipandang sebagai suatu rencana kegiatan belajar bagi murid-murid di sekolah, atau sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin dicapai. Suatu kurikulum juga dapat menunjuk kepada suatu dokumen yang berisi rumusan tentang tujuan, bahan ajar, kegiatan belajar-mengajar, jadwal, dan evaluasi. Suatu kurikulum juga dapat digambarkan sebagai dokumen tertulis sebagai hasil persetujuan bersama antara para penyusun kurikulum dan pemegang kebijaksanaan pendidikan dengan masyarakat. Suatu kurikulum juga dapat mencakup lingkup tertentu, suatu sekolah, suatu kabupaten, propinsi, ataupun seluruh negara. Konsep ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan konsep kurikulum sebelumnya, namun dalam kurikulum 2013 ini lebih bertumpu kepada kualitas guru sebagai implementator di lapangan. Pendapat ini mengemuka dalam diskusi tentang Kurikulum 2013 yang diinisiasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda, di Utrecht, Belanda, beberapa waktu lalu.

“Kualitas guru perlu diperhatikan, dan guru juga tidak boleh menjadi pribadi yang malas dan berhenti belajar,” demikian dilansir situs PPI Belanda, Senin (7/1/2013).

Menurut peserta diskusi, yakni pelajar dan masyarakat Indonesia di Utrecht, Belanda, sistem pendidikan perlu harus mencegah terjadinya kemalasan guru akibat yang bersangkutan telah mendapatkan sertifikasi. Mereka menilai, alangkah baiknya jika sertifikasi guru tidak dibuat untuk seumur hidup, tetapi diperbaharui secara berkala layaknya  surat izin mengemudi (SIM). Dengan begitu, guru selalu terpacu untuk meningkatkan kualitasnya secara berkala.

Satu poin positif yang disampaikan peserta diskusi adalah langkah pemerintah yang berencana membuat kembali buku panduan utama (babon) bagi siswa dan pedoman pengajaran bagi guru dinilai tepat. Mereka menyarankan, buku ini juga berisi tautan elektronik (link) tentang beragam pengetahuan tambahan yang bisa didapatkan guru dan siswa dari internet.[12][8]

Konsep kedua, adalah kurikulum 2013 sebagai suatu sistem, yaitu sistem kurikulum. Sistem kurikulum merupakan bagian dari sistem persekolahan, sistem pendidikan, bahkan sistem masyarakat. Suatu sistem kurikulum mencakup struktur personalia, dan prosedur kerja bagaimana cara menyusun suatu kurikulum, melaksanakan, mengevaluasi, dan menyempurnakannya. Hasil dari suatu sistem kurikulum adalah tersusunnya suatu kurikulum, dan fungsi dari sistem kurikulum adalah bagaimana memelihara kurikulum agar tetap danamis.

Konsep ini juga dapat dipastikan mengalami prubahan dari konsep kurikulum yang sebelumnya, sebab wacana pergantian kurikulum dalam sistem pendidikan memang merupakan hal yang wajar, mengingat perkembangan alam manusia terus mengalami perubahan. Namun, dalam menentukan sistem yang baru diharapakan para pembuat kebijakan jangan asal main rubah saja, melainkan harus menentukan terlebih dahulu kerangka, konsep dasar maupun landasan filosofis yang mengaturnya.

Konsep ketiga, kurikulum sebagai suatu bidang studi yaitu bidang studi kurikulum. Ini merupakan bidang kajian para ahli kurikulum dan ahli pendidikan dan pengajaran. Tujuan kurikulum sebagai bidang studi adalah mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum. Mereka yang mendalami bidang kurikulum, mempelajari konsep-konsep dasar tentang kurikulum. Melalui studi kepustakaan dan berbagai kegiatan penelitian dan percobaan, mereka menemukan hal-hal baru yang dapat memperkaya dan memperkuat bidang studi kurikulum.


[1][1]. Fitrah di sini dimaksudkan sebagai potensi dasar manusia yang dibawa sejak lahir, di antaranya adalah agama, intelek, sosial, susila, seni, ekonomi, kawin, kemajuan, persamaan, keadilan, kemerdekaan, politik, ingin dihargai, dihormati dan lain sebagainya. Lihat Nur Ahid, “Konsep Pendidikan Islam dalam Keluarga”, (Tesis, IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 1993), 20

[2][2] . Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995), cet. 2, hlm. 170.

 

[3][3]. Sudirman, Ilmu Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1987), 4.

[4][4]. Azzumardi Azra, Esei-esei Intelektual Muslim Pendidikan Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998), 3.

[5][5] . Dalam sistem itu didukung oleh nilai-nilai dan norma-norma yang dimiliki dan diyakini oleh masyarakat yang bersangkutan. Keterikatan itu menempatkan manusia menyatu dengan nilai-nilai yang sifatnya universal. Karena itu, manusia dapat dikatakan sebagai makhluk yang mempunyai kesadaran moral dan keagamaan.

[6][6] .Pendidikan karakter adalah Salah satu hal yang sederhana karena kata ‘karakter’ adalah semua pengembangan diri siswa dalam interaksi belajar hingga awal dan berakhirnya proses pengajaran bisa tercapai pembentukan siswa yang berkarakter. Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter.

[7][1] Pengertian ini tergolong tradisional, akan tetapi paling tidak, secara realita, orang-orang melihat bahwa esensi kurikulum adalah hal tersebut yang sampai sekarang masih digunakan di Indonesia. Lebih lanjut lihat; Zainal Arifin, 2012, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, hlm. 2-3

[8][2] UU. No. 20 tentang SISDIKNAS tahun 2003 bab 1 pasal 1 ayat 19

[9][3] UU. No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 ayat 1, lebih lanjut lihat E. Mulyasa, 2006, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Bandung, PT Remaja Rosadakarya, hlm. 19

[10][4] UU. No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 ayat 2

[11][7] . Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), 27.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s